Menjelang Malam
lihatlah dunia menjelang malam
seperti labirin yang memerlukan cahaya
mereka nyalakan lampion di sudut kota
tanpa lelah mereka memburu amarah
yang berdiam di balik ketiak sampah
di antara sumpah serapah
tak ada waktu beristirah
melepas penat dan peluh di wajah
mereka telah terjajah
tak pernah menyerah
tak pernah mau kalah
Bandung
Thursday, March 01, 2007
puisi
DALAM KENANGAN
-buat fn dee
suatu waktu kita pernah bersua
dalam perjamuan sastra, di pinggir ingatan
kita bercanda dalam kata, berdiskusi dalam puisi
tapi kau sendiri dalam sunyi
suatu waktu kita pernah berlari
bersama mengejar matahari
yang terbit dari novel, drama, skenario, dan puisi
tapi kau sendiri dalam nyanyi
suatu waktu kita pernah berpisah
aku di Jakarta, kau meregang nyawa
saat itu aku sedang makan malam
tapi kau sendiri dalam diam
kau tak sempat berucap
aku tak sempat berucap
selamat tinggal
Jakarta-Bandung 2005-2007
-buat fn dee
suatu waktu kita pernah bersua
dalam perjamuan sastra, di pinggir ingatan
kita bercanda dalam kata, berdiskusi dalam puisi
tapi kau sendiri dalam sunyi
suatu waktu kita pernah berlari
bersama mengejar matahari
yang terbit dari novel, drama, skenario, dan puisi
tapi kau sendiri dalam nyanyi
suatu waktu kita pernah berpisah
aku di Jakarta, kau meregang nyawa
saat itu aku sedang makan malam
tapi kau sendiri dalam diam
kau tak sempat berucap
aku tak sempat berucap
selamat tinggal
Jakarta-Bandung 2005-2007
Sunday, February 25, 2007
Esai Sastra
Memahami Dusta dan Kebenaran dalam Sastra
Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa selain sebagai dunia rekaan (bukan nyata) dan sebagai dunia refleksi, sastra ternyata juga bisa dikatakan sebagai sebuah dusta. Sastra adalah dusta di dalam dirinya. Dikatakan demikian, lantaran sastra dapat menjadi 'kebenaran' melalui 'pembenaran-pembenaran' yang terjadi secara individual.
Di antara kebenaran dan dusta itu tak ada satu pun prosedur yang memungkinkannya menjadi 'kebenaran' atau 'dusta' massal atau kolektif. Semua bisa terjadi dalam dunia kemungkinan, sebagaimana semua pihak dapat menerima atau menolaknya melalui standar pribadi yang dimilikinya.
Simpulannya, dusta dan kebenaran dalam sastra memang tak terbatas, keduanya sedemikian rupa bias bercampur bagai molekul yang saling melarut. Ketika sastra diminta atau dipaksa mendesakkan dunia rekaannya pada pihak lain, ia berhenti menjadi seni. Mungkin ia berubah menjadi slogan, propaganda, agama, sains, atau ideologi. Dan sastra, tak berdaya untuk itu.
Bahkan dalam bukunya yang berjudul Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Radhar Panca Dahana menulis, bahwa jika hal di atas terjadi, maka sastra akan bernasib seperti kotak mainan anak, ia akan tergeletak di pojok, di atas lemari baju, atau teronggok di balik etalase barang elektronik; lusuh dan berdebu, terlupakan, tak terbeli. Begitu lemahkah sastra? Demikian kira-kira Radhar kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang kembali membutuhkan jawaban idealistis, mitologis, romantis atau kadang-kadang terlalu dramatis.
Seandainya pertanyaan itu tidak bergema dan bergayut sekalipun, pertanyaan atas posisi sastra akan senantiasa ada, tak pernah berhenti, tak pernah tuntas, dan tak pernah ada simpulan, penyelesaian, atau batasan-batasan definitifnya. Semua sekadar catatan bahwa manusia memang menjalani sebuah proses untuk menemukan dirinya sendiri, menyempurnakan pemahaman-pemahaman atas dunia, menempatkan posisi yang labil di dalamnya.
Sastra dan pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berulang dan tujuan sebenarnya adalah untuk menemukan manusia yang ternyata selalu hilang (dalam setiap perubahan zamannya). Semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.
***
Dunia imajinasi yang ditata dalam karya sastra adalah semesta yang menghimpunnya tak hanya 'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin' dan 'kesadaran badan'. Dunia empirik yang ada padanya tak dapat dijelaskan oleh kategori sehari-hari yang kita pahami, sebagaimana pengalaman batin dan badan takkan pernah mampu kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.
Karena itu, seorang pembaca hendaknya memiliki ancang-ancang sendiri untuk menghadapi karya sastra, karena sekali lagi --semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.
Dan kiranya, pemikiran tentang rekonstruksi manusia serta efek-efek yang ditimbulkannya itu --serta gagasan menarik dari Radhar Panca Dahana tentang kebenaran dan dusta dalam sastra-- akan menjadi menarik apabila lebih dikaji dalam suatu objek kajian.
Barangkali juga merupakan sebuah objek kajian yang menggelitik, bila kita melirik kembali rekonstruksi sebuah naskah sejarah menjadi karya sastra, misalnya --naskah Perang Bubat. Naskah sejarah Perang Bubat merupakan satu contoh bentuk naskah sejarah yang bisa kita lihat, telah banyak mengalami rekonstruksi dari pengarang dalam wilayah kultur berbeda, antara pengarang berasal dari kultur sosial Jawa dan Sunda masih merupakan satu kajian yang tak pernah selesai.
Naskah Perang Bubat sebagai bentuk naskah sejarah ini jelas menjadi naskah karya sastra manakala di dalamnya telah terjadi rekonstruksi oleh pengarang melalui wacana dialog tokoh-tokohnya yang tidak pernah tercatat dalam sejarah. Hal ini sebagaimana yang terjadi dalam bentuk naskah-naskah lain, semisal dalam naskah Ken Arok - Ken Dedes-nya Pramoedya. Namun, rekonstruksi seperti itu jelas berbeda dengan rekonstruksi naskah yang berbau sejarah seperti Rumah Kaca, Bumi Manusia, atau lain-lainnya yang kemudian direkonstruksi menjadi sebuah karya sastra.
Rekonstruksi naskah Perang Bubat menjadi menarik karena di dalamnya melibatkan berbagai aspek emosi atas pembelaan terhadap sebuah ras, kesukuan dalam dua kultur: Sunda dan Jawa. Dan sebagaimana kita maklumi juga, bahwa dua kubu suku ini telah mengalami 'keretakan' secara latar sosialnya --karena persoalan yang pernah ditimbulkan dalam Perang Bubat itu sendiri sebagai sejarah.
Dengan demikian hadir berbagai persoalan khususnya yang menyangkut posisi sebuah karya sastra itu sendiri di tengah rekonstruksi yang demikian, juga tanggung jawab seorang pengarang, dan kesiapan seorang pembaca, apakah masih menganggap naskah seperti itu sebagai karya sastra manakala di dalamnya terjalin rangkaian dialog antartokohnya sebagai hasil rekonstruksi pengarang, serta posisi 'dusta' dan 'kebenaran' yang bukan lagi bergerak dalam batas-batas realitas antara sesuatu yang bersifat empiris dan imajis, melainkan sudah melibatkan aspek-aspek subjektivitas pengarang dengan segala bentuk konsekuensinya.
Di sinilah kita mulai memahami, bahwa karya sastra bisa menjadi dusta dan kebenaran. Di sini pula kita mulai memahami bahwa 'dusta' yang sesungguhnya adalah 'dusta' hasil rekonstruksi seorang pengarang dari naskah sejarah ke karya sastra, walau sekali lagi --secara garis besar cerita-- tidak beranjak dari kebenaran peristiwa sejarah itu sendiri.
Rekonstruksi naskah sejarah ke sastra dipandang sebagai sebuah 'dusta', manakala aspek-aspek individualisme, bahkan --komunalisme-- telah berlaku di dalamnya. Di situ kita memahami bagaimana posisi 'kebenaran' naskah sebagai sejarah yang diyakini kebenarannya, dan bagaimana posisi 'dusta' dalam naskah sejarah itu sendiri yang telah mengalami rekonstruksi. Sebuah 'dusta' yang sesungguhnya berada di luar keberadaan sebuah karya sastra karena terkait dengan latar belakang pengarang. Dan seorang pembaca, kiranya perlu untuk tahu keberadaan posisinya, bukan hanya berpegangan pada aspek-aspek individual atau komunal. Sebuah kajian yang tentunya memerlukan ruang tersendiri sebagai satu penelitian yang belum tuntas.
Oleh: Herwan FR
Sumber: Republika Online
Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa selain sebagai dunia rekaan (bukan nyata) dan sebagai dunia refleksi, sastra ternyata juga bisa dikatakan sebagai sebuah dusta. Sastra adalah dusta di dalam dirinya. Dikatakan demikian, lantaran sastra dapat menjadi 'kebenaran' melalui 'pembenaran-pembenaran' yang terjadi secara individual.
Di antara kebenaran dan dusta itu tak ada satu pun prosedur yang memungkinkannya menjadi 'kebenaran' atau 'dusta' massal atau kolektif. Semua bisa terjadi dalam dunia kemungkinan, sebagaimana semua pihak dapat menerima atau menolaknya melalui standar pribadi yang dimilikinya.
Simpulannya, dusta dan kebenaran dalam sastra memang tak terbatas, keduanya sedemikian rupa bias bercampur bagai molekul yang saling melarut. Ketika sastra diminta atau dipaksa mendesakkan dunia rekaannya pada pihak lain, ia berhenti menjadi seni. Mungkin ia berubah menjadi slogan, propaganda, agama, sains, atau ideologi. Dan sastra, tak berdaya untuk itu.
Bahkan dalam bukunya yang berjudul Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Radhar Panca Dahana menulis, bahwa jika hal di atas terjadi, maka sastra akan bernasib seperti kotak mainan anak, ia akan tergeletak di pojok, di atas lemari baju, atau teronggok di balik etalase barang elektronik; lusuh dan berdebu, terlupakan, tak terbeli. Begitu lemahkah sastra? Demikian kira-kira Radhar kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang kembali membutuhkan jawaban idealistis, mitologis, romantis atau kadang-kadang terlalu dramatis.
Seandainya pertanyaan itu tidak bergema dan bergayut sekalipun, pertanyaan atas posisi sastra akan senantiasa ada, tak pernah berhenti, tak pernah tuntas, dan tak pernah ada simpulan, penyelesaian, atau batasan-batasan definitifnya. Semua sekadar catatan bahwa manusia memang menjalani sebuah proses untuk menemukan dirinya sendiri, menyempurnakan pemahaman-pemahaman atas dunia, menempatkan posisi yang labil di dalamnya.
Sastra dan pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berulang dan tujuan sebenarnya adalah untuk menemukan manusia yang ternyata selalu hilang (dalam setiap perubahan zamannya). Semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.
***
Dunia imajinasi yang ditata dalam karya sastra adalah semesta yang menghimpunnya tak hanya 'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin' dan 'kesadaran badan'. Dunia empirik yang ada padanya tak dapat dijelaskan oleh kategori sehari-hari yang kita pahami, sebagaimana pengalaman batin dan badan takkan pernah mampu kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.
Karena itu, seorang pembaca hendaknya memiliki ancang-ancang sendiri untuk menghadapi karya sastra, karena sekali lagi --semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.
Dan kiranya, pemikiran tentang rekonstruksi manusia serta efek-efek yang ditimbulkannya itu --serta gagasan menarik dari Radhar Panca Dahana tentang kebenaran dan dusta dalam sastra-- akan menjadi menarik apabila lebih dikaji dalam suatu objek kajian.
Barangkali juga merupakan sebuah objek kajian yang menggelitik, bila kita melirik kembali rekonstruksi sebuah naskah sejarah menjadi karya sastra, misalnya --naskah Perang Bubat. Naskah sejarah Perang Bubat merupakan satu contoh bentuk naskah sejarah yang bisa kita lihat, telah banyak mengalami rekonstruksi dari pengarang dalam wilayah kultur berbeda, antara pengarang berasal dari kultur sosial Jawa dan Sunda masih merupakan satu kajian yang tak pernah selesai.
Naskah Perang Bubat sebagai bentuk naskah sejarah ini jelas menjadi naskah karya sastra manakala di dalamnya telah terjadi rekonstruksi oleh pengarang melalui wacana dialog tokoh-tokohnya yang tidak pernah tercatat dalam sejarah. Hal ini sebagaimana yang terjadi dalam bentuk naskah-naskah lain, semisal dalam naskah Ken Arok - Ken Dedes-nya Pramoedya. Namun, rekonstruksi seperti itu jelas berbeda dengan rekonstruksi naskah yang berbau sejarah seperti Rumah Kaca, Bumi Manusia, atau lain-lainnya yang kemudian direkonstruksi menjadi sebuah karya sastra.
Rekonstruksi naskah Perang Bubat menjadi menarik karena di dalamnya melibatkan berbagai aspek emosi atas pembelaan terhadap sebuah ras, kesukuan dalam dua kultur: Sunda dan Jawa. Dan sebagaimana kita maklumi juga, bahwa dua kubu suku ini telah mengalami 'keretakan' secara latar sosialnya --karena persoalan yang pernah ditimbulkan dalam Perang Bubat itu sendiri sebagai sejarah.
Dengan demikian hadir berbagai persoalan khususnya yang menyangkut posisi sebuah karya sastra itu sendiri di tengah rekonstruksi yang demikian, juga tanggung jawab seorang pengarang, dan kesiapan seorang pembaca, apakah masih menganggap naskah seperti itu sebagai karya sastra manakala di dalamnya terjalin rangkaian dialog antartokohnya sebagai hasil rekonstruksi pengarang, serta posisi 'dusta' dan 'kebenaran' yang bukan lagi bergerak dalam batas-batas realitas antara sesuatu yang bersifat empiris dan imajis, melainkan sudah melibatkan aspek-aspek subjektivitas pengarang dengan segala bentuk konsekuensinya.
Di sinilah kita mulai memahami, bahwa karya sastra bisa menjadi dusta dan kebenaran. Di sini pula kita mulai memahami bahwa 'dusta' yang sesungguhnya adalah 'dusta' hasil rekonstruksi seorang pengarang dari naskah sejarah ke karya sastra, walau sekali lagi --secara garis besar cerita-- tidak beranjak dari kebenaran peristiwa sejarah itu sendiri.
Rekonstruksi naskah sejarah ke sastra dipandang sebagai sebuah 'dusta', manakala aspek-aspek individualisme, bahkan --komunalisme-- telah berlaku di dalamnya. Di situ kita memahami bagaimana posisi 'kebenaran' naskah sebagai sejarah yang diyakini kebenarannya, dan bagaimana posisi 'dusta' dalam naskah sejarah itu sendiri yang telah mengalami rekonstruksi. Sebuah 'dusta' yang sesungguhnya berada di luar keberadaan sebuah karya sastra karena terkait dengan latar belakang pengarang. Dan seorang pembaca, kiranya perlu untuk tahu keberadaan posisinya, bukan hanya berpegangan pada aspek-aspek individual atau komunal. Sebuah kajian yang tentunya memerlukan ruang tersendiri sebagai satu penelitian yang belum tuntas.
Oleh: Herwan FR
Sumber: Republika Online
Catatan Harian
suatu hari, istriku pernah bercerita tentang seseorang. seseorang tersebut merasa tidak enak hati karena dilecehkan tetanggganya. karena ingin balas dendam terhadap tetangganya itu, seseorang tersebut kemudian menutup jalan menuju rumah tetangganya tersebut. aku jadi teringat pada sajak "Tetangga" yang pernah kubuat sekira 5 tahun lalu.
Wednesday, January 03, 2007
Sajak-sajak lama
KEPADA LASYA
Dan kau kenakan juga jubah sajak itu dalam kencan malam
Sementara hujan menjadi sahabat
Menyusuri lorong kata yang gelap
Akhirnya kau tatap wajah kekasih
Sampai kemudian ia merebahkan tubuhnya
Dalam penantian panjang dadamu.
Bandung, 2000
DI TEPI KUBUR
Di tepi kubur kutaburkan sajak doa
Dan seribu kerinduan menyapa
Dalam mimpi-mimpi malam.
Di tepi kubur kujemput sunyi
Mengambang di udara yang papa
Mengusir jerit ketakutan dari mimpi malam
Tentang seseorang yang meninggal.
Bandung, 2000
KEPADA NOOR
Mencintaimu bagaikan sekelebat bayangan
Bulan di atas kepala, berkilauan di rambut usia
Hilang dalam jejak-jejak malam
Menuju kenangan musim
Kemarau yang risau, menjelma kerinduan menahun.
Adapun mengingatmu adalah tidurnya kelelawar
Yang lelah mengurai malam menjadi catatan
Kesunyian mengisi jiwaku yang papa,
Kesunyian ketika rambutmu tak panjang lagi.
Bandung, 2000
PANGANDARAN
Dan hujan menjadi sahabatku yang kekal;
Pasir putih, batu karang, dan goa-goa masa silam
Seperti properti pentas kesepian dalam rinai gerimis
Akupun menahan nafas yang sesak
Mata menerawang ke hutan yang dijaga kera-kera
Menjadi sejarah kita yang rahasia.
Pangandaran, 9910
MENGENANG POPO ISKANDAR
Kucing-kucing pun menangis di jasadmu.
Bandung, 2000
DALAM LANGGAM MEGA SUTRA
Engkau dendangkan nyanyian kasmaran
Dari lidah kenangan.
Akupun meradang memanggil kesunyian.
Bandung, 2000
MENUNGGU SEPI
Menunggu sepi berpaling dari wajahku
Agar ceria hari-hari pengorbanan
Tak ada lagi kesengsaraan dan pergulatan
Menunggu maut yang tak kunjung datang
Kukibarkan bendera peperangan
Mengusir sepi yang lama menyelimuti
Keinginan dan kasih sayang
Tapi sepi telah menjadi kawan abadi.
Bandung, 2000
BUAT SRI MARYATI
Kamar itu masih seperti sediakala
Pajangan puisi cinta dan sejumlah kenangan
Berbaris rapi di dinding kamar.
Rak buku, tape, meja, dan tempat tidurmu
Menempati ruangnya sendiri
Aku bagai pulang ke kamar sendiri,
Bercengkrama dengan burung-burung
Di pagar kayu hitam
Tapi dingin mengusik persendian
Juga hatiku.
Kemanakah lagi harus kulangkahkan
Rindu yang lapar ini.
Ledeng, 2000
BUAT NONA YULIANTI
Sepertinya itulah sajak terakhir
Cuaca di luar telah berubah dingin
Tak ada lagi perjalanan malam
Tak ada lagi acara menanam bunga di tepi kolam
Mereka berguguran
Dan kita bercakap dalam diam
Seperti karang yang angkuh, sendiri
Tapi aku tahu,
Laut pun menguraikan kebijaksanaannya.
Bandung, 2000
BUAT TEITRI YULISTIAN
Kertas-kertas itu berhamburan di kelopak mataku
Jari-jari menjadi kaku,
Seribu pertanyaan menginginkan jawab
Tapi wajahmu yang samar adalah benih dari keraguan.
Hati ini menjadi rentan oleh setiap tegur sapa
Meski aku tahu bahwa engkau pemuja kata-kata
Dan penikmat jerit penyair di ruang gelap.
Kesabaranmu itu bagai daun
Merontokkan dirinya, mengecup tanah basah
Dan aku, tri, hanyalah puing-puing dari masa silam.
Bandung, 2000
Dan kau kenakan juga jubah sajak itu dalam kencan malam
Sementara hujan menjadi sahabat
Menyusuri lorong kata yang gelap
Akhirnya kau tatap wajah kekasih
Sampai kemudian ia merebahkan tubuhnya
Dalam penantian panjang dadamu.
Bandung, 2000
DI TEPI KUBUR
Di tepi kubur kutaburkan sajak doa
Dan seribu kerinduan menyapa
Dalam mimpi-mimpi malam.
Di tepi kubur kujemput sunyi
Mengambang di udara yang papa
Mengusir jerit ketakutan dari mimpi malam
Tentang seseorang yang meninggal.
Bandung, 2000
KEPADA NOOR
Mencintaimu bagaikan sekelebat bayangan
Bulan di atas kepala, berkilauan di rambut usia
Hilang dalam jejak-jejak malam
Menuju kenangan musim
Kemarau yang risau, menjelma kerinduan menahun.
Adapun mengingatmu adalah tidurnya kelelawar
Yang lelah mengurai malam menjadi catatan
Kesunyian mengisi jiwaku yang papa,
Kesunyian ketika rambutmu tak panjang lagi.
Bandung, 2000
PANGANDARAN
Dan hujan menjadi sahabatku yang kekal;
Pasir putih, batu karang, dan goa-goa masa silam
Seperti properti pentas kesepian dalam rinai gerimis
Akupun menahan nafas yang sesak
Mata menerawang ke hutan yang dijaga kera-kera
Menjadi sejarah kita yang rahasia.
Pangandaran, 9910
MENGENANG POPO ISKANDAR
Kucing-kucing pun menangis di jasadmu.
Bandung, 2000
DALAM LANGGAM MEGA SUTRA
Engkau dendangkan nyanyian kasmaran
Dari lidah kenangan.
Akupun meradang memanggil kesunyian.
Bandung, 2000
MENUNGGU SEPI
Menunggu sepi berpaling dari wajahku
Agar ceria hari-hari pengorbanan
Tak ada lagi kesengsaraan dan pergulatan
Menunggu maut yang tak kunjung datang
Kukibarkan bendera peperangan
Mengusir sepi yang lama menyelimuti
Keinginan dan kasih sayang
Tapi sepi telah menjadi kawan abadi.
Bandung, 2000
BUAT SRI MARYATI
Kamar itu masih seperti sediakala
Pajangan puisi cinta dan sejumlah kenangan
Berbaris rapi di dinding kamar.
Rak buku, tape, meja, dan tempat tidurmu
Menempati ruangnya sendiri
Aku bagai pulang ke kamar sendiri,
Bercengkrama dengan burung-burung
Di pagar kayu hitam
Tapi dingin mengusik persendian
Juga hatiku.
Kemanakah lagi harus kulangkahkan
Rindu yang lapar ini.
Ledeng, 2000
BUAT NONA YULIANTI
Sepertinya itulah sajak terakhir
Cuaca di luar telah berubah dingin
Tak ada lagi perjalanan malam
Tak ada lagi acara menanam bunga di tepi kolam
Mereka berguguran
Dan kita bercakap dalam diam
Seperti karang yang angkuh, sendiri
Tapi aku tahu,
Laut pun menguraikan kebijaksanaannya.
Bandung, 2000
BUAT TEITRI YULISTIAN
Kertas-kertas itu berhamburan di kelopak mataku
Jari-jari menjadi kaku,
Seribu pertanyaan menginginkan jawab
Tapi wajahmu yang samar adalah benih dari keraguan.
Hati ini menjadi rentan oleh setiap tegur sapa
Meski aku tahu bahwa engkau pemuja kata-kata
Dan penikmat jerit penyair di ruang gelap.
Kesabaranmu itu bagai daun
Merontokkan dirinya, mengecup tanah basah
Dan aku, tri, hanyalah puing-puing dari masa silam.
Bandung, 2000
Lahir di Panjalu-Ciamis pada tanggal 28 Juli 1976.
Sejak 2004 bekerja di Balai Bahasa Bandung sebagai Peneliti bahasa dan sastra. Alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Bersama Lukman A Sya pernah memimpin Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI Bandung (1997-1998).
Menulis puisi dan sejumlah tulisan lainnya sejak memasuki bangku perguruan tinggi. Aktif di beberapa komunitas sastra dan forum menulis seperti di ASAS UPI Bandung, Madrasah Budaya, dan ketua Asosiasi Membaca dan Menulis Bandung (AMMB).
Karya-karyanya berupa puisi, esai, dan resensi dimuat di berbagai media massa Bandung dan Jakarta, seperti di Bandung Pos, Hikmah, Suara Publik, Pikiran Rakyat, Galamedia, Media Pembinaan, Tabloid AKSI, Suara Pembaruan, Republika, dan lain-lain. Selain itu sejumlah puisinya termuat dalam antologi Ketika Matahari…(1998). Sejumlah puisinya Juga pernah dibacakan di Radio Ganesha Bandung.
Sejak 2004 bekerja di Balai Bahasa Bandung sebagai Peneliti bahasa dan sastra. Alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Bersama Lukman A Sya pernah memimpin Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI Bandung (1997-1998).
Menulis puisi dan sejumlah tulisan lainnya sejak memasuki bangku perguruan tinggi. Aktif di beberapa komunitas sastra dan forum menulis seperti di ASAS UPI Bandung, Madrasah Budaya, dan ketua Asosiasi Membaca dan Menulis Bandung (AMMB).
Karya-karyanya berupa puisi, esai, dan resensi dimuat di berbagai media massa Bandung dan Jakarta, seperti di Bandung Pos, Hikmah, Suara Publik, Pikiran Rakyat, Galamedia, Media Pembinaan, Tabloid AKSI, Suara Pembaruan, Republika, dan lain-lain. Selain itu sejumlah puisinya termuat dalam antologi Ketika Matahari…(1998). Sejumlah puisinya Juga pernah dibacakan di Radio Ganesha Bandung.
Subscribe to:
Posts (Atom)