KEPADA LASYA
Dan kau kenakan juga jubah sajak itu dalam kencan malam
Sementara hujan menjadi sahabat
Menyusuri lorong kata yang gelap
Akhirnya kau tatap wajah kekasih
Sampai kemudian ia merebahkan tubuhnya
Dalam penantian panjang dadamu.
Bandung, 2000
DI TEPI KUBUR
Di tepi kubur kutaburkan sajak doa
Dan seribu kerinduan menyapa
Dalam mimpi-mimpi malam.
Di tepi kubur kujemput sunyi
Mengambang di udara yang papa
Mengusir jerit ketakutan dari mimpi malam
Tentang seseorang yang meninggal.
Bandung, 2000
KEPADA NOOR
Mencintaimu bagaikan sekelebat bayangan
Bulan di atas kepala, berkilauan di rambut usia
Hilang dalam jejak-jejak malam
Menuju kenangan musim
Kemarau yang risau, menjelma kerinduan menahun.
Adapun mengingatmu adalah tidurnya kelelawar
Yang lelah mengurai malam menjadi catatan
Kesunyian mengisi jiwaku yang papa,
Kesunyian ketika rambutmu tak panjang lagi.
Bandung, 2000
PANGANDARAN
Dan hujan menjadi sahabatku yang kekal;
Pasir putih, batu karang, dan goa-goa masa silam
Seperti properti pentas kesepian dalam rinai gerimis
Akupun menahan nafas yang sesak
Mata menerawang ke hutan yang dijaga kera-kera
Menjadi sejarah kita yang rahasia.
Pangandaran, 9910
MENGENANG POPO ISKANDAR
Kucing-kucing pun menangis di jasadmu.
Bandung, 2000
DALAM LANGGAM MEGA SUTRA
Engkau dendangkan nyanyian kasmaran
Dari lidah kenangan.
Akupun meradang memanggil kesunyian.
Bandung, 2000
MENUNGGU SEPI
Menunggu sepi berpaling dari wajahku
Agar ceria hari-hari pengorbanan
Tak ada lagi kesengsaraan dan pergulatan
Menunggu maut yang tak kunjung datang
Kukibarkan bendera peperangan
Mengusir sepi yang lama menyelimuti
Keinginan dan kasih sayang
Tapi sepi telah menjadi kawan abadi.
Bandung, 2000
BUAT SRI MARYATI
Kamar itu masih seperti sediakala
Pajangan puisi cinta dan sejumlah kenangan
Berbaris rapi di dinding kamar.
Rak buku, tape, meja, dan tempat tidurmu
Menempati ruangnya sendiri
Aku bagai pulang ke kamar sendiri,
Bercengkrama dengan burung-burung
Di pagar kayu hitam
Tapi dingin mengusik persendian
Juga hatiku.
Kemanakah lagi harus kulangkahkan
Rindu yang lapar ini.
Ledeng, 2000
BUAT NONA YULIANTI
Sepertinya itulah sajak terakhir
Cuaca di luar telah berubah dingin
Tak ada lagi perjalanan malam
Tak ada lagi acara menanam bunga di tepi kolam
Mereka berguguran
Dan kita bercakap dalam diam
Seperti karang yang angkuh, sendiri
Tapi aku tahu,
Laut pun menguraikan kebijaksanaannya.
Bandung, 2000
BUAT TEITRI YULISTIAN
Kertas-kertas itu berhamburan di kelopak mataku
Jari-jari menjadi kaku,
Seribu pertanyaan menginginkan jawab
Tapi wajahmu yang samar adalah benih dari keraguan.
Hati ini menjadi rentan oleh setiap tegur sapa
Meski aku tahu bahwa engkau pemuja kata-kata
Dan penikmat jerit penyair di ruang gelap.
Kesabaranmu itu bagai daun
Merontokkan dirinya, mengecup tanah basah
Dan aku, tri, hanyalah puing-puing dari masa silam.
Bandung, 2000
Wednesday, January 03, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment