Wednesday, January 03, 2007

Sajak-sajak lama

KEPADA LASYA

Dan kau kenakan juga jubah sajak itu dalam kencan malam
Sementara hujan menjadi sahabat
Menyusuri lorong kata yang gelap

Akhirnya kau tatap wajah kekasih
Sampai kemudian ia merebahkan tubuhnya
Dalam penantian panjang dadamu.

Bandung, 2000


DI TEPI KUBUR

Di tepi kubur kutaburkan sajak doa
Dan seribu kerinduan menyapa
Dalam mimpi-mimpi malam.

Di tepi kubur kujemput sunyi
Mengambang di udara yang papa
Mengusir jerit ketakutan dari mimpi malam
Tentang seseorang yang meninggal.

Bandung, 2000


KEPADA NOOR

Mencintaimu bagaikan sekelebat bayangan
Bulan di atas kepala, berkilauan di rambut usia
Hilang dalam jejak-jejak malam
Menuju kenangan musim
Kemarau yang risau, menjelma kerinduan menahun.
Adapun mengingatmu adalah tidurnya kelelawar
Yang lelah mengurai malam menjadi catatan

Kesunyian mengisi jiwaku yang papa,
Kesunyian ketika rambutmu tak panjang lagi.

Bandung, 2000



PANGANDARAN

Dan hujan menjadi sahabatku yang kekal;
Pasir putih, batu karang, dan goa-goa masa silam
Seperti properti pentas kesepian dalam rinai gerimis
Akupun menahan nafas yang sesak
Mata menerawang ke hutan yang dijaga kera-kera
Menjadi sejarah kita yang rahasia.

Pangandaran, 9910


MENGENANG POPO ISKANDAR

Kucing-kucing pun menangis di jasadmu.

Bandung, 2000


DALAM LANGGAM MEGA SUTRA

Engkau dendangkan nyanyian kasmaran
Dari lidah kenangan.
Akupun meradang memanggil kesunyian.

Bandung, 2000


MENUNGGU SEPI

Menunggu sepi berpaling dari wajahku
Agar ceria hari-hari pengorbanan
Tak ada lagi kesengsaraan dan pergulatan

Menunggu maut yang tak kunjung datang
Kukibarkan bendera peperangan

Mengusir sepi yang lama menyelimuti
Keinginan dan kasih sayang

Tapi sepi telah menjadi kawan abadi.


Bandung, 2000


BUAT SRI MARYATI

Kamar itu masih seperti sediakala
Pajangan puisi cinta dan sejumlah kenangan
Berbaris rapi di dinding kamar.
Rak buku, tape, meja, dan tempat tidurmu
Menempati ruangnya sendiri
Aku bagai pulang ke kamar sendiri,
Bercengkrama dengan burung-burung
Di pagar kayu hitam
Tapi dingin mengusik persendian
Juga hatiku.

Kemanakah lagi harus kulangkahkan
Rindu yang lapar ini.

Ledeng, 2000


BUAT NONA YULIANTI

Sepertinya itulah sajak terakhir
Cuaca di luar telah berubah dingin
Tak ada lagi perjalanan malam
Tak ada lagi acara menanam bunga di tepi kolam
Mereka berguguran
Dan kita bercakap dalam diam
Seperti karang yang angkuh, sendiri
Tapi aku tahu,
Laut pun menguraikan kebijaksanaannya.

Bandung, 2000


BUAT TEITRI YULISTIAN

Kertas-kertas itu berhamburan di kelopak mataku
Jari-jari menjadi kaku,
Seribu pertanyaan menginginkan jawab
Tapi wajahmu yang samar adalah benih dari keraguan.
Hati ini menjadi rentan oleh setiap tegur sapa
Meski aku tahu bahwa engkau pemuja kata-kata
Dan penikmat jerit penyair di ruang gelap.
Kesabaranmu itu bagai daun
Merontokkan dirinya, mengecup tanah basah
Dan aku, tri, hanyalah puing-puing dari masa silam.

Bandung, 2000

0 comments: